ikan tuna 1 ekor potong kecil kecil
jeruk nipis 1 buah
Bumbu Garang Asem :
1500 cc santan sedang
6 butir bawang merah iris tipis
5 siung bawang putih iris tipis
5 cabe merah besar potong serong
5 cabe hijau besar potong serong
cabe rawit potong serong
daun salam
12 iris tipis lengkuas
20 buah blimbing sayur iris 1 cm
Garam secukupnya
Cara membuat Garang Asem :
1. cuci bersih ikan tuna yg sudah di potong kecil kecil..
2. lumuri dengan jeruk nipis dan garam ( supaya tidak amis )
3. diamkan ikan selama 10 menit
4. goreng ikan sampai matang.
5. angkat dan tiriskan ikan
6. Masukkan bumbu halus ke dalam santan, aduk rata.Campurkan garam ( sedikit saja ) pada santan, aduk sampai rata, jangan lupa di cicipi, rasa harus agak asin. tapi jangan terlalu asin karena ikan sudah diberi garam
7. Ambil dua lembar daun pisang. usahakan daun sudah agak lemes. ( ambil daun pisang lalu diamkan selama paling gak semalam ) Supaya tidak pecah dan bocor. buat jaga jaga juga di antara 2 lembar daun pisang, di lapisi selembar plastik tahan panas. sehingga jika daun ( ternyata ) pecah, kuahnya nggak tumpah.
8. Masukkan sepotong daun salam, satu iris lengkuas, 1 potong ikan tuna yg sudah di goreng 2 buah cabai rawit,cabe besar, dan tiga potong belimbing sayur.
9. Tuangkan dengan santan yg sudah dicampur tuna dan bumbu pada daun pisang, bungkus hingga rapi, jepit dengan lidi.
10. Masukkan ke dalam dandang dan kukus selama 30 menit.
courtesy of @abdullah_umar
Wae inneun beobeun angareuchigo tteonan geoya
Abi masih duduk merenung menatap kosong pada layar monitor laptop di depannya. Layar yang tadinya penuh dengan tab yang berhubungan dengan pekerjaannya itu kini berganti dengan gambar-gambar ikan yang berseliweran. Sementara lagu itu entah sudah berapa kali terputar di playlistnya. Bukan hanya lagu itu sebenarnya, masih ada puluhan lagu Korea yang akhir-akhir ini memenuhi pendengarannya. Dia bahkan nyaris bisa menghafal lirik-liriknya karena saking seringnya mendengarkan. Sepanjang siang tadi teman-teman kerja yang kebetulan melewati mejanya ada yang berhenti sejenak, sekedar meyakinkan kalau pendengaran mereka tidak salah.
“Sejak kapan kamu menjadi K-Popper?”
Intan, yang juga K-Popper mengernyitkan dahinya. Bukankah Abi sebelumnya anti dengan K-Pop gara-gara ilfeel dengan boyband dan girlband tiruan K-Pop di TV-TV nasional? Abi tidak menjawab pertanyaan itu, dia tetap serius bekerja. Bahkan hingga jam kerja berakhir, dia masih di sana, mendengarkan lagu itu. Sambil makan kue mochi dan kimbab yang dia pesan ke restoran Korea di lantai 3 melalui OB.
Lagu-lagu itu, makanan-makanan itu, hanyalah sedikit dari hal-hal yang tak pernah dibayangkan oleh Abi jika hari ini dia akan menyukainya. Dia juga melakukan banyak hal yang dulu tak pernah dilakukannya, meletakkan vas berisi bunga mawar di meja kerja, menempelkan magnet panda di kulkas, mengganti wallpaper HP nya dengan foto mawar putih dan lain-lain.
Namanya Jang Mi, gadis blasteran Jawa - Korea itulah yang membuatnya berubah seperti ini. Mereka bertemu saat dia menjadi penerjemah yang mendampingi Abi menjamu tamu perusahaan yang datang dari Seoul. Hanya 3 hari mereka bersama, itu pun tidak lebih dari 3 jam, dan Abi merasa jatuh cinta padanya. Dia jadi menemukan banyak alasan agar gadis itu mau bertemu dengannya.
Aku suka lagu ini.
Bayangan Jang Mi yang duduk di sampingnya sambil bersenandung kembali menghampirinya.
Ini lagunya Lee Seung Gi, suaranya enak banget, ya? Kalau ke Korea lagi aku ingin menculik dia.
Suara tawanya yang ceria masih terdengar begitu nyata.
Asal jangan lupa untuk kembali, ada yang merindukanmu di sini.Aku tahu. Aku juga pasti akan merindukanmu.
Sungguh?
Ne. Merindukanmu itu seru. Bahkan… Kadang-kadang di dekatmu pun aku sudah merasakannya.
Jang Mi berangkat ke Seoul sebulan setelah itu untuk merayakan ulang tahun neneknya. Dia berjanji akan kembali 2 minggu lagi. Tapi dia tak pernah kembali, hingga sekarang. Abi sendirian. Ditinggalkan tanpa diajari untuk melupakan.
Wae inneun beobeun angareuchigo tteonan geoya [Kenapa kamu pergi tanpa mengajariku cara melupakanmu?]
Jang Mi [Mawar, umum dipakai sebagai nama perempuan Korea]
#15HariNgeblogFF #Day12 **Late post**
“Odooool… Bangun ngga, nih?”
Vanya jejeritan di depan pintu kamar adiknya.
“Apaaaa?”
Dia mendengar suara cempreng dari balik pintu itu.
“Balikin ngga parfum dan baju kakak? Mau dipakai ini, nanti malam ada undangan dinner dengan klien.”
Tak ada sahutan. Vanya masih menunggu beberapa menit lagi. Lalu pintu terbuka dari dalam. Sebentuk senyum dari bibir tipis dan sederet gigi seimut biji mentimun menyambutnya. Bukan senyum manis, melainkan senyum polos yang bisa membuat lawan bicara semakin kesal. Vanya mendorong pintu itu hingga terbuka lebih lebar. Dan matanya menatap si adik dengan nafas tertahan. Gaun selutut berwarna toska dengan ruffle di pundak hingga pinggang itu masih melekat di tubuh mungil adiknya. Bahannya yang jatuh membuat pemakainya terlihat manis.
“Kak, boleh pinjem lagi dong. Hari iniiiiii aja.”
“Hadeuh anak ini.” Vanya berkacak pinggang. “Mau kemana, sih?”
“Rahasia.” Jawabnya. Lalu dia menutup pintu kamarnya. Dia berjalan berjingkat, membuka korden jendela kamar. Dia melongok ke jendela rumah sebelah. Seorang cowok sedang berdiri menyamping di balkon. Rambutnya yang sedikit gondrong berkibaran tertiup angin sore, juga kemejanya yang tidak terkait kancingnya itu. Dia memegangi dadanya sendiri, seolah jantungnya bisa lepas sendiri kalau dia terus-terusan memandangi cowok itu.
“Sampai ketemu nanti malam di ultahnya Keiko, ya.” ujarnya sambil tersenyum seakan-akan cowok itu bisa mendengarnya.
Namanya Odetta, tapi kakak-kakaknya iseng memanggilnya Odol. Sekarang dia berusia 16 tahun, masih kelas 1 SMA dan sedang jatuh cinta pada Dennis, tetangga sekaligus kakak kelasnya.
“Bajumu dibalikin?”
Vanya menggeleng. Pasrah. Padahal dia ingin memakai baju itu juga nanti malam. Mama ikutan angkat bahu.
“Nantilah kalau kamu gajian beli lagi, biar itu dipakai adikmu. Atau minta ganti rugi sama papa. Odetta kayanya ingin terlihat cantik di depan Dennis hari ini.”
Mama menghibur Vanya.
“Begini ya kalau Odol lagi jatuh cinta, diriku yang harus menjadi korban. Tapi tak apalah, yang penting dapet ganti rugi. Hihi…”
#15HariNgeblogFF #Day13
Link reblogged from @proyekmenulis with 5 notes
Halo penulis hebat…
setiap orang pasti punya cerita tersendiri dalam hidupnya. kapan pun. di mana pun.
akhirnya kami dengan bangga memberitahukan untuk proyek menulis pertama kita.
untuk proyek pertama ini kami mengusung tema Memories in the rain.
syaratnya :
1. semua karya bisa berupa fiksi,…
Source: proyekmenulis
Rana merapatkan lilitan syal di lehernya yang sempat kendor, kedua tangannya sedingin es. Bodoh sekali tidak mengenakan sarung tangan di tengah udara seperti ini. Bukan, Rana bukan sedang di Seoul atau Moscow. Dia hanya di kota Surabaya, yang musim kemaraunya bisa sepanas gurun, tapi saat musim hujan dinginnya mungkin menyamai Siberia.
“Hallo… Lama, ya?”
“Lumayan. Nyaris beku tadi aku di luar.”
Robby tertawa. Mereka berjalan menuju mobil Robby yang diparkir tidak jauh dari situ.
“Kamu sih nunggu di luar. Kenapa ngga masuk aja?”
Rana menggeleng. “Aku ngga enak sama teman-temanmu.”
“Mereka ngga kenapa-kenapa.”
“Nanti mereka lapor kalau kamu punya selingkuhan bagaimana?”
“Lah… Aku selingkuh dengan siapa? Aku selingkuh dari siapa?”
Robby memandangnya dengan muka heran.
“Kamu dan… Andrea?”
“Kami hanya teman sekarang.”
“Berarti dulu ngga hanya teman dong?” Rana penasaran.
Robby mengangguk. Mukanya serius menatap lalu lintas di depannya yang ramai meskipun tidak macet. Air hujan masih menetesi kaca mobilnya.
“Dia… Menyukai orang lain. Dan aku tidak bisa memaksanya terus bersamaku.” lanjutnya.
“Oh, aku tidak tahu. Kalian masih sering terlihat bersama, jadi kukira masih pacaran.”
“Memangnya kalau sudah putus tidak boleh berteman? Tidak boleh jalan bersama?”
Rana meliriknya. Tempat les nya sudah dekat. Dan dia berharap ada kemacetan atau apa yang membuat mereka tertahan berdua di mobil ini setidaknya setengah atau sejam lagi. Fakta Robby dan Andrea sudah tidak berpacaran lagi membuat hatinya berdebar-debar antara senang dan gugup. Tapi dia berusaha keras untuk terlihat biasa saja.
“Kalau kamu… Apakah kamu juga menyukai orang lain?”
“Ya.”
“Oh.” Responnya pendek.
“Kenapa?”
“Ngga apa-apa. Tapi apa dia tahu kalau kamu menyukainya?”
Robby tertawa lagi, “entahlah. Sepertinya dia tidak tahu.”
“Senasib deh kita, Rob. Cinta sepihak.”
Rana menunduk. Ternyata Robby menyukai orang lain, jadi meskipun dia tidak berpacaran dengan Andrea, tetap saja Rana tak punya kesempatan. Harapannya menguap lagi.
“Eh udah sampai aja. Ngga terasa.” Robby memelankan laju mobilnya, lalu berhenti di depan gedung bertingkat 3 tempat Rana les Bahasa Jepang itu.
“Makasih ya, Rob.”
“Sama-sama, nanti aku jemput jam berapa?”
“Jam 10.”
“Ok.”
Rana berbalik memunggunginya, Robby memperhatikannya berjalan menjauh lalu menghilang di balik pintu.
Robby menghela nafas, panjang. Hujan yang sama masih membasahi kaca mobilnya. Meskipun kejadian itu sudah berlalu sejak 2 tahun lalu. Tapi dia masih sering datang ke tempat ini setiap hari Jum’at sekitar jam 8 malam, seolah-olah melihat Rana yang melambaikan tangan padanya lalu berjalan hingga hilang di balik pintu kaca itu.
Ran… Entah sampai kapan aku terus melakukan ini? Aku tidak bisa menghentikannya. Tempat ini… Menyimpan banyak kenangan denganmu. Senyummu, lambaian tanganmu, wangi parfummu, juga syal rajut buatan mama yang terlihat cantik di lehermu. Tempat ini… Menyimpan semua itu. Kenangan tentangmu, yang selalu manis.
#15HariNgeblogFF #Day11
“Apa itu?”
Kara buru-buru menyembunyikan kertasnya ke dalam laci meja. Yona mengernyitkan dahi, menatap curiga padanya. Kara hanya nyengir kuda dengan kedua tangannya masih tersembunyi di dalam laci. Yona hanya angkat bahu sebelum akhirnya berlalu dari dekatnya. Kara menghembuskan nafas lega. Dia mengeluarkan tangannya lagi, sobekan bloknote bergambar Ariel itu kusut di ujungnya. Bibir Kara mengerucut cemberut, dia menyalahkan Yona yang tadi mengagetkannya. Diremasnya kertas itu. Lalu dia merobek kertas yang sama dari dalam tasnya. Mencoret-coretkan sesuatu, memandanginya sambil tersenyum. Dia menoleh ke kanan - kiri sambil mengendap-endap. Ruangan itu sedang kosong, ditinggalkan ke 41 penghuni tetapnya. Setelah merasa aman dia pun mengeluarkan kertasnya. Dia menaruh benda itu di dalam laci. Lalu secepat kilat berlari meninggalkan tempat itu.
***
“Apa ini?”
Adit mengeluarkan sesuatu dari laci mejanya. Selembar kertas bergambar Ariel si Putri Duyung. Ada coretan dua lingkaran kecil dan satu garis lengkung lebar, ikon smiley. Di bawahnya ada beberapa baris kata.
“Aku tidak melihat senyummu kemarin, mungkin seseorang mencurinya. Jadi hari ini aku menggambarkan ikon senyum untukmu yang lucu. Semoga aku segera menemukan senyum ini di wajahmu”
Secret admirer
Adit mengedarkan pandangannya ke seisi kelas yang tengah serius mendengarkan penjelasan guru Fisika di depan.
#15HariNgeblogFF #Day10
“Aku benci kamu!”
Hari ini, di antara semua hari, kenapa harus hari ini? Ini hari pertama Nia bekerja. Dan di antara semua orang, kenapa harus dia yang mengatakannya? Harry, dia adalah alasan Nia menyukai tempat ini jauh sebelum dia melamar kerja. Nia menuju ruang loker khusus karyawati. Duduk bersandar pada pintu lokernya sambil memejamkan mata. Dia hampir menangis.
“Eh, anak baru. Kamu di sini?”
Nia membuka matanya. Seorang perempuan berseragam sama dengannya sedang memandanginya. Dia terlihat seperti orang yang sedang khawatir. Nia memaksakan tersenyum padanya, lalu mengangguk.
“Kamu ngga makan malam?”
“Saya tidak lapar.”
“Heh, tetap saja kamu harus duduk bersama kami sebelum makan. Itu tradisi restoran kita.”
“Oh ya?”
Perempuan itu mengangguk, lalu mengajak Nia pergi dari tempat itu.
Lampu utama telah di matikan. Tulisan “open” di pintu kaca telah dibalik dan berganti dengan tulisan “closed”, Nia memasuki ruangan yang berpenerangan lebih redup dari sebelumnya. Dia melihat ada nasi goreng, nasi cumi asam manis, pasta, kentang goreng, dan minuman yang sepertinya teh dan kopi.
“Kita para karyawan harus makan malam bersama sebelum pulang. Itulah yang membuat kita memiliki ikatan satu sama lain, dan betah bekerja di tempat ini.”
Seseorang memberitahunya. Dia mengangguk pelan.
“Sepertinya… Saya… tidak akan lama bekerja di sini.” Nia berkata.
“Eh… Kenapa?”
“Ng… Ngga kenapa-kenapa.”
Nia mengurungkan niatnya untuk berbicara. Tidak akan ada gunanya juga, toh dia akan resign setelah dapat sebulan bekerja. Dia tidak betah setelah mendengar ucapan dari supervisornya yang tidak menyukainya. Padahal Nia setengah mati menyukainya, jauh sebelum mereka bertemu di tempat ini. Saat mereka masih menjadi mahasiswa di sekolah perhotelan 4 tahun lalu. Harry adalah kakak seniornya.
***
“Aku bertemu lagi dengan Nia tadi.”
“Nia? Siapa?”
“Kania Ariyanti.”
“Adik tingkat kita?”
Harry menggangguk. Lalu menyesap kopinya perlahan sambil membuang pandangannya ke arah jendela.
“Nia sejak dulu tergila-gila padamu. Pasti dia pikir akan sangat menyenangkan bertemu lagi denganmu di tempat kerja.”
“Sepertinya begitu. Aku melihat ekspresi di wajahnya tadi.”
“Lalu, apa itu ekspressi yang ada di wajahmu sekarang? Kamu ngga suka bertemu dengannya lagi?”
Harry menghela nafas. Memainkan jemarinya di sekeliling cangkir kopinya yang ke tiga.
“Aku tidak akan bisa menyukainya, meskipun aku mau. Kamu tahu itu.”
Satya yang duduk di depannya tersenyum. “Har… Mau sampai kapan kamu begini?”
“Aku ngga bisa, Sat. Aku takut… Aku hanya menyukainya karena dia mirip Rosi, bukan karena dirinya sendiri. Jadi… Lebih baik dia berfikir aku membencinya.”
#15HariNgeblogFF #Day8
Sepucuk surat tergeletak manis di meja kerjanya. Sebuah surat beramplop biru, ditulis di atas selembar kertas berwarna sama dengan gambar awan putih dan lengkungan pelangi. Surat itu datang bersama kotak makan siang berisi makanan kesukaannya, nasi dengan ikan bakar, sambal dan lalapan yang aromanya menguar memenuhi ruangan. Rizky membuka suratnya, dia tahu itu pasti dari Amelia. Bibirnya menyunggingkan senyum. Dia makan sambil membaca surat itu berkali-kali. Seolah setiap dibaca lagi dia akan menemukan kata atau kalimat baru. Padahal isi surat itu sama sejak 3 bulan lalu, ketika pertama kali Amelia menulisnya dan mengirimkannya bersama kotak makan siang itu.
“Ayah makan yang banyak, ya. Jangan membuat mama sedih di sana.”
Aku hanya bisa memandanginya seperti ini, tanpa bisa menyentuhnya. Setiap hari. Menyaksikan Rizky membaca sepucuk surat yang bukan dariku, tapi dari Amelia, gadis kecil kami.
#15HariNgeblogFG #Day7
Fira membereskan kertas-kertas di meja kerjanya. Membuang beberapa ke tempat sampah, menyimpan yang lain di lacinya, dan beberapa lagi dia lipat lalu dimasukkan ke dalam tas. Dia melirik jam tangannya, sudah jam 7. Sudah lewat 2 jam dari jam kerja normalnya. Dia menghela nafas, melihat pantulan wajahnya yang datar tanpa senyum di monitor laptopnya yang sudah mati.
“Fir… Kamu belum pulang?”
Fira terkejut melihat atasannya yang tiba-tiba muncul di ruang kerjanya.
“Sebentar lagi, Pak. Bapak juga masih di sini?”
Pria itu mengangguk sambil tersenyum. Dia mengatakan ada yang masih harus dikerjakan. Fira lalu pamit pulang. Pria itu memperhatikannya berlalu. Hatinya bertanya-tanya, kenapa akhir-akhir ini Fira berubah workaholic begitu. Dia yang dulunya selalu pulang tepat waktu dan punya segudang alasan untuk menolak lembur, sekarang malah sebaliknya. Dia seperti betah berlama-lama di kantor.
“Pak Anton masih di sini?”
Seorang OB menyapanya.
“Iya, ada yang mencariku?”
OB itu mengangguk. Pria bernama Anton itu segera ke lobby setelah mengambil tas kerja di ruangannya. Dia langsung menepuk pundak sahabatnya yang sedang menunggu tidak jauh dari meja panjang resepsionis. Lalu mereka pergi dari tempat itu.
“Kamu jadi ikutan rajin lembur ya gara-gara anak buahmu kerasan di kantor?”
Anton tertawa. “Aku penasaran dengan perubahan yang terjadi pada Fira. Drastis begitu. Apa yang membuatnya seperti itu. Dikasih pekerjaan seberapapun ngga pernah nolak. Disuruh masuk kapanpun patuh.”
“Jangan-jangan dia naksir kamu lagi.”
Mereka berdua tertawa.
“Atau kamu yang mulai naksir dia?”
“Kamu ngaco ya ngomongnya. Haha…”
“Masa? Aku melihat hanya ada dia di matamu akhir-akhir ini. Sadar ngga kalau 3 bulan terakhir ini kamu lebih sering membicarakan dia daripada memusingkan lawan-lawan yang siap menjegal promosi jabatanmu di kantor?”
Anton melirik sahabatnya sekilas. Hanya melirik, dia tidak menyangkal pernyataan itu, tidak juga membenarkannya.
#15HariNgeblogFF #Day6
Jam 4 sore. Gerimis sudah turun sejak sore. Membasahi jendela besar di kamar Andhin yang kordennya tak terpasang sempurna. Angin sesekali meniup kain warna salem itu dan membuatnya melambai perlahan. Andhin menatap keluar, ke arah rumput dan bunga-bunga basah di halaman. Ada seekor kodok melompat-lompat menyeberang ke selokan. Dan di bawah pohon mangga, seekor ayam betina meringkuk kedinginan. Andhin menggigil, lalu menyesap coklat panasnya perlahan. Pikirannya kembali dipenuhi dengan bayangan Hakim. Pria yang sudah pergi sejak 3 tahun silam. Pergi, bersama semua rasa cinta yang pernah dimiliki Andhin untuk seorang pria. Pergi, dengan membawa hati Andhin yang telah ia percayakan padanya. Pergi, yang dia tahu tak akan kembali, tak akan pernah. Yang tersisa kini, hanya Andhin yang biasa, tanpa hati tanpa cinta. Dingin, seperti hujan sore ini. Sepi. Kosong. Air matanya turun perlahan, berlomba dengan tetesan hujan di kaca jendela.
“Jangan lupa besok kamu harus ketemu dengan anaknya Om dan Tante Aria. Mereka sangat berharap kalian berjodoh.” Ucapan mamanya tadi pagi terngiang lagi di telinganya.
“Ma, aku tidak mau. Tidak bolehkah aku menolaknya?” Pintanya dengan nada datar. Mama menggeleng.
“Apa lagi alasanmu sekarang?” Mama menatapnya tajam. Andhin tahu mamanya serius kali ini. Dan tatapan itu, kini terbayang di matanya.
“Hakim, kalaupun harus menikah, aku maunya kamu. Hanya dengan kamu.” bisiknya, yang hanya bisa di dengar telinganya sendiri.
#15HariNgeblogFF #Day4
Page 1 of 33